Mengenal Kemukjizatan Al-Quran dan Sunnah

Manusia, seperti semua makhluk lainnya, berada dalam perawatan Tuhan sejak lahir sampai mati. Setiap makhluk dipandu oleh sistem khusus menuju tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Semua perbuatan jahat yang dilakukan manusia berasal dari makhluknya sendiri. kecerdasan dan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk karena keegoisan, keserakahan dan nafsu. Oleh karena itu, Allah SWT mengajarkan perintah-Nya kepada hamba-hamba pilihan melalui wahyu dan mengarahkan mereka untuk mengikuti perintah-perintah kepada umat manusia, mengajak mereka untuk mengikutinya dengan rasa takut, dorongan dan ancaman.

Misi para nabi atau rasul sebelumnya terbatas pada bidang dan waktu tertentu. Mukjizat mereka bersifat temporal, lokal dan material. Berdasarkan cerita Al-Qur’an, al-Suyūthī membagi kemukjizatan Al-Quran dan Sunnah para nabi dan rasul menjadi dua kelompok utama, yaitu mukjizat hissiyyah (dapat dirasakan oleh indera) dan ‘aqliyyah (hanya dapat ditangkap oleh pikiran manusia). Mukjizat hissiyyah diperkenalkan oleh nabi yang menghadapi ummat sebelumnya, seperti Nabi Musa dengan tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular untuk membungkam penyihir karena tingkat intelektualitas dan kurangnya kekuatan mental Bani Israil di saat Musa diutus kepada mereka.

Mukjizat tersebut hanya dapat diperlihatkan kepada orang-orang tertentu dan pada waktu-waktu tertentu.5 Tidak seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad diutus ke seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Oleh karena itu mukjizatnya adalah ‘aqliyyah karena memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan kemampuan kognitif yang sempurna.6 Tantangan pikiran tidak bersifat lokal, temporal dan material, tetapi bersifat universal, permanen dan dapat dipikirkan serta diperlihatkan oleh pikiran manusia.

Kata keajaiban diambil dari bahasa Arab a’jaza-yu’jizu-i’jāz yang artinya lemah atau tidak mampu. Pelaku (yang melemahkan) disebut mukjizat dan pihak yang mampu melemahkan pihak lain sehingga bisa membungkam lawan, maka disebut mukjizat. Penambahan ta ‘marbūthah di akhir kata mengandung arti mubālaghah (superlatif). 8 Sampai saat ini, belum ada kesepakatan di kalangan ulama dalam menentukan aspek mukjizat Alquran. Namun, aspek magis Alquran dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yaitu aspek kebahasaan, berita supranatural, dan pandangan ilmiah.

Penyusunan Alquran tidak bisa disamakan dengan pekerjaan yang baik.9 Menurut Muhammad ‘Abd Allah Darrāz, jika diamati dengan seksama di dalam Alquran terdapat banyak rahasia mukjizat dari segi bahasa. Hal ini terlihat dari keteraturan suaranya yang indah melalui nada hurufnya. Pada dasarnya bunyi bahasa dibedakan menjadi dua jenis: konsonan dan vokal. Konsonan adalah bunyi ujaran yang dihasilkan dengan memblokir aliran udara pada titik-titik pada pita suara di atas glotis (misalnya: b, c, dan d). Vokal adalah bunyi ujaran yang dihasilkan oleh getaran pita suara dan tanpa penyempitan pita suara di atas glotis (misalnya: a, i, u, e, o).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *